Ayo Buktikan Kemampuanmu!

  Dilema Penggunaan Garam NaCl untuk Mencairkan Salju di Jalan Raya Setiap musim dingin, pemerintah di negara-negara beriklim subtropis dan dingin menghadapi dilema dalam mengatasi salju yang membeku di jalan raya. Salah satu metode yang paling umum digunakan adalah menaburkan garam (NaCl) di permukaan jalan. Metode ini memanfaatkan prinsip penurunan titik beku larutan, salah satu sifat koligatif yang terjadi ketika zat terlarut non-volatil ditambahkan ke dalam pelarut. Namun, penggunaan garam jalan raya ini menimbulkan pro dan kontra yang melibatkan aspek keselamatan, biaya, dan dampak lingkungan. Ketika garam NaCl ditaburkan pada salju atau es, garam akan larut dalam lapisan air tipis yang terbentuk di permukaan es. Garam NaCl terionisasi sempurna dalam air dengan persamaan:

  Kehadiran ion-ion ini dalam larutan menyebabkan penurunan titik beku air. Penurunan titik beku dapat dihitung menggunakan rumus:

  Dengan ΔTf adalah penurunan titik beku (°C), Kf adalah konstanta penurunan titik beku molal air (1,86 °C kg/mol), m adalah molalitas larutan, dan i adalah faktor van’t Hoff (untuk NaCl, i = 2 karena terionisasi menjadi 2 ion). Air murni membeku pada 0°C, tetapi larutan garam 10% dapat menurunkan titik beku hingga sekitar-6°C, dan larutan jenuh NaCl (23%) dapat menurunkan titik beku hingga-21°C (Wikipedia, 2025).

  Menurut Solomon et al. (2023), di Amerika Serikat sekitar 24,5 juta ton garam jalan digunakan setiap tahunnya dengan biaya rata-rata $50-70 per ton (setara Rp 1.500.000 per ton). Penelitian dari Kuemmel & Rashad (1992) menunjukkan penggunaan garam jalan mengurangi kecelakaan hingga 88%, cedera hingga 85%, dan biaya kecelakaan hingga 85%. Alternatif lain yang tersedia adalah kalsium klorida (CaCl₂) dengan harga $150-200 per ton (Rp 4.200.000 per ton), dan magnesium klorida (MgCl₂) dengan harga $3.800.000 per ton. Kalsium klorida memiliki faktor van’t Hoff i = 3 karena terionisasi menjadi satu ion Ca²⁺ dan dua ion Cl⁻ sehingga lebih efektif menurunkan titik beku hingga-51°C pada konsentrasi jenuh. Namun, tingkat korosi yang ditimbulkan pada infrastruktur logam dan beton sangat tinggi.

  Dampak lingkungan menjadi perhatian serius. Cary Institute of Ecosystem Studies (2023) melaporkan bahwa 90% garam di anak sungai Hudson berasal dari garam jalan. Konsentrasi klorida di sungai dan danau di dekat jalan raya yang diberi garam meningkat hingga 100 kali lipat dibandingkan kondisi alami. U.S. Environmental Protection Agency dalam dokumen kriteria kualitas air tahun 1988 menetapkan batas aman klorida dalam air tawar adalah 230 mg/L untuk perlindungan kehidupan akuatik jangka panjang dan 860 mg/L untuk paparan jangka pendek (U.S. EPA, 1988). Namun, di banyak area urban, konsentrasi klorida telah melampaui 1000 mg/L, menyebabkan kematian ikan, amfibi, dan tumbuhan air. Selain itu, ion natrium dari garam dapat menggantikan nutrisi penting seperti kalsium dan magnesium dalam tanah, mengganggu pertumbuhan vegetasi di sepanjang jalan (Minnesota Pollution Control Agency, 2019). 

Diskusikan bersama anggota kelompok untuk melatih keterampilan argumentasi berikut!

Soal

Berdasarkan bacaan di atas, haruskah pemerintah terus menggunakan garam (NaCl) sebagai metode utama untuk mencairkan es dan salju di jalan raya?

Untuk berlatih membuat argumen, berdasarkan Sampson yang terdiri dari claim, evidence, dan justification. 

Petunjuk:

Claim
Pernyataan jawaban Anda
Evidence
Bukti yang mendukung jawaban Anda
Justification
Penjelasan terkait bukti dapat menguatkan jawaban Anda